Assalamualaikum teman-teman.
Apa kabarnya hari ini. Semoga selalu sehat walafiat yaa 😊
Oke, postingan artikel kali ini saya akan menuliskan tentang perkembangan sosial emosional. Pasti kalian sudah tau kan, apa itu aspek sosial emosional? 😀
Baiklah langsung saja, tanpa menunda-nunda, silahkan simak artikel di bawah ini 😉
CHECK THIS OUT
A. PENGERTIAN EMOSI
Para pakar perkembangan anak dewasa ini meyakini bahwa kecerdasan intelegensia bukanlah faktor yang paling menentukan keberhasilan dalam hidup seseorang. Kecerdasan emosional sudah terbukti lebih berperan dalam kesuksesan dan kesejahteraan seseorang. Pengembangan kecerdasan emosi anak haruslah dimulai sejak ia masih dalam kandungan ibundanya. Masa emas perkembangan emosi anak terjadi pada usia lahir sampai pra-sekolah, dan dilanjutkan hingga ia memasuki kehidupan sekolah dasar. Anak yang cerdas secara emosi, mempunyai modal besar untuk mandiri, mampu beradaptasi dengan situasi baru dan bertahan dalam berbagai situasi yang sulit.
Mengingat bahwa banyak orang tua yang saat ini mempercayakan anaknya untuk di didik di kelompok bermain ataupun taman kanak-kanak, maka tentu saja guru di lembaga pendidikan tersebut harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan aspek sosial emisional anak.
Perkembangan sosial emosional anak merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan oleh guru Anak Usia Dini (AUD) untuk membantu perkembangan anak dengan optimal.
Jika kita berbicara tentang emosi maka setiap orang akan mengatakan bahwa ia pernah merasakannya.
EMOSI adalah perasaan yang ada dalam diri kita, dapat berupa perasaan senang atau tidak senang, perasaan baik atau buruk.
Dalam WORLD BOOK DICTIONARY (1994: 690) EMOSI didefinisikan sebagai "berbagai perasaan yang kuat", seperti perasaan benci, takut, marah, cinta, senang, dan kesedihan.
Syamsudin (1990: 69) mengemukakan bahwa "EMOSI merupakan suatu suasana yang kompleks ( a complex feeling state) dan getaran jiwa (stid up state) yang menyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya sesuatu perilaku".
Jadi, EMOSI merupakan suatu keadaan yang kompleks, dapat berupa perasaan ataupun getaran jiwa yang ditandai oleh perubahan biologis yang muncul menyertai terjadinya suatu perilaku.
B. MEKANISME EMOSI
Lewis Rosenblum (Stewart, at. al. 1985) mengutarakan proses terjadinya emosi melalui lima tahapan sebagai berikut.
1. ELICITORS
Elicitors yaitu adanya dorongan berupa situasi atau peristiwa.Misalnya peristiwa kebakaran.
2. RECEPTORS
Receptor, yakni aktivitas di pusat sistem syaraf, setelah indra menerima rangsangan dari luar. Dalam hal ini mata melihat peristiwa kebakaran maka mata berfungsi sebagai indra penerima stimulus atau reseptor awal.
3. STATE
State, yaitu perubahan spesifik yang terjadi dalam aspek fisiologi. Dalam contoh kasus ini, setelah rangsangan mencapai otak maka otak menerjemahkan dan mengolah stimulus tersebut serta menyebarkan kembali stimulus yang telah diterjemahkan tadi ke berbagai bagian tubuh lain yang terkait sehingga terjadi perubahan fisiologis, seperti jantung berdetak keras, tekanan darah naik, badan tegang atau terjadi perubahan pada hormon lainnya.
4. EXPRESSION
Expression, yaitu terjadinya perubahan pada daerah yang dapat diamati, seperti pada wajah, tubuh, suara atau tindakan yang terdorong oleh perubahan fisiologis. Contohnya, otot wajah mengencang, tubuh tegang, mulut terbuka, dan suara keras berteriak atau bahkan lari kencang menjauh.
5. EXPERIENCE
Experience, yaitu persepsi dari interpretasi individu pada kondisi emosionalnya. Dengan pengalaman individu dalam menerjemahkan dan merasakan perasaannya sebagai rasa takut, stres, terkejut, dan ngeri.
Syamsudin (2000: 69) mengutarakan mekanisme emosi dalam rumusan yang lebih ringkas. Kelima komponen tadi digambarkan dalam tiga variable berikut.
1. Variable Stimulus
Rangsangan yang menimbulkan emosi disebut sebagai variable stimulus. Terdapat peristiwa sebagai rangsangan bermakna bagi individu yang diterima melalui panca indranya.
2. Variabel Organismik
Perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi saat mengalami emosi disebut sebagai variabel organik. Setelah individu menerima rangsangan, proses selanjutnya adalah meneruskan rangsangan tersebut ke pusat syaraf. Pusat sistem syaraf meneruskan rangsangan yang telah diolah ke seluruh tubuh sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan fisiologis. Variabel organismik ini memiliki kesamaan dengan terjadinya proses receptors dan state.
3. Variabel Respons
Pola sambutan ekspresif atas terjadinya pengalaman emosi disebut sebagai variabel respons. Individu merespons stimulus yang ia terima dengan cara mengekspresikannya melalui perilaku ataupun bahasa tubuhnya. Variabel respon ini memiliki kesamaan dengan proses expression.
Referensi :
Nugraha Ali dan Rachmawati Yeni. 2013. Metode pengembangan sosial emosional. Universitas Terbuka. Banten